Berhenti Tanpa Tapi
Karya : Pena_Lingga
Berhenti tanpa tapi adalah luka yang tidak memilih waktu untuk sembuh. Ia datang seperti angin yang tiba-tiba hening, membawa sepi yang terlalu berat untuk dijelaskan. Kau dan aku pernah berjalan sejajar, dalam langkah yang barangkali tak selalu sama, tapi selalu saling menunggu. Namun kini, langkah itu berhenti. Bukan karena tidak cinta, tapi karena lelah memperjuangkan yang terus melukai.
Aku tak pernah membayangkan kita akan selesai seperti ini. Tanpa peringatan, tanpa alasan yang bisa kupegang. Hanya diam, lalu kau pergi. Dan aku masih berdiri di tempat yang sama, menggenggam harapan yang perlahan berubah menjadi debu. Rasanya seperti menelan pil pahit setiap kali mengingat caramu berhenti mencintaiku tanpa kata perpisahan.
Aku tahu cinta tidak selalu tentang bertahan, tapi aku berharap, setidaknya ada kata maaf, ada peluk perpisahan, atau mungkin hanya tatapan terakhir yang bisa kuingat. Tapi tidak, kau memilih pergi dengan sunyi, membiarkanku menebak-nebak kesalahan yang bahkan tidak pernah kau bicarakan.
Aku duduk di pojok kenangan, memutar ulang setiap detik yang pernah kita habiskan. Suaramu masih menggema di kepalaku, senyummu masih lekat di mataku. Tapi kini semua itu hanya ilusi. Kenangan yang tak lagi bisa diulang. Cinta yang tak lagi bisa diperbaiki.
Berhenti tanpa tapi adalah kekejaman yang dibungkus seolah-olah demi kebaikan. Tapi kebaikan untuk siapa? Karena yang kutahu, aku yang ditinggal adalah aku yang harus berdamai dengan segala luka tanpa tahu bagaimana caranya.
Malam-malam menjadi lebih panjang sejak kepergianmu. Aku berbicara pada bantal yang basah, pada langit-langit kamar yang tak pernah menjawab. Aku mencoba mengerti, mencoba tegar, tapi hatiku menolak untuk percaya bahwa cinta seindah itu bisa berakhir tanpa sebab.
Kadang aku berharap kau akan kembali, mengetuk pintu dan berkata bahwa ini hanya salah paham. Tapi harapan itu seperti lilin kecil di tengah badai. Ia menyala sesaat, lalu padam tanpa ampun. Dan aku harus kembali merangkak dalam gelap, mencari alasan untuk tetap hidup tanpamu.
Aku tidak membencimu, sungguh tidak. Tapi aku kecewa pada caramu menyerah. Pada caramu membiarkan semua yang kita bangun runtuh tanpa usaha terakhir. Kau mengajariku bahwa cinta tidak selalu cukup, dan bahwa kadang, orang pergi bukan karena tidak mencinta, tapi karena tidak tahu bagaimana mencintai dengan benar.
Kini aku berdiri sendiri, menatap masa depan yang tak lagi kau isi. Aku belajar berjalan tanpa bayangmu, belajar tertawa tanpa suaramu. Perlahan, aku belajar bahwa berhenti tanpa tapi memang menyakitkan, tapi aku tetap harus melanjutkan hidup.
Dan jika suatu hari kau membaca ini, ketahuilah, aku pernah mencintaimu sebaik-baiknya. Tapi aku juga tahu, mencintai diriku sendiri adalah satu-satunya hal yang bisa menyelamatkanku dari kepergianmu. Jadi aku juga berhenti—tanpa tapi.
Bumi Duka, 3 Mei 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar