Jatuh Cinta Virtual Itu Rumit, Tapi Seru
Karya : Pena_Lingga
Jatuh cinta dengan orang virtual itu rumit sekali. Aku merasa sudah dekat dengan dia, tapi di suatu waktu, aku mendadak sadar kalau aku tidak banyak mengenal tentang dia, dan kalau dia tiba-tiba hilang, aku gak akan bisa mencarinya kemanapun, karena hubungannya, hanya ada di dalam pesan suara atau kolom chat saja.
Setiap malam, aku menunggu notifikasi dari namanya. Bahkan hanya dengan satu pesan singkat, rasanya cukup untuk membuat hatiku tenang. Lucu ya, bagaimana seseorang yang bahkan belum pernah kulihat secara langsung bisa mengisi ruang hatiku sedalam ini. Ia hadir dalam kata-kata, dalam tawa yang terdengar lewat pesan suara, dan dalam diam yang anehnya tetap terasa hangat.
Kami berbicara banyak hal. Tentang cuaca, tentang mimpi-mimpi, tentang ketakutan yang tak pernah bisa kuungkapkan ke siapa-siapa. Tapi sekaligus, kami tidak membicarakan banyak hal juga. Aku tidak tahu bagaimana bentuk matanya saat tertawa, apakah dia lebih suka kopi atau teh, atau apakah dia pernah menyebut namaku dengan suara yang benar-benar tulus.
Ada saat-saat di mana aku merasa hubungan ini begitu nyata. Seakan kami hanya dipisahkan oleh waktu dan jarak, dan suatu hari nanti semua ini akan menjadi kisah manis yang bisa kami ceritakan ulang. Tapi lalu aku terdiam, menyadari bahwa dia bisa saja tak lebih dari bayangan yang kubentuk sendiri, dari potongan-potongan pesan yang kukumpulkan dengan harapan.
Aku pernah coba mencari tahu lebih dalam. Ingin tahu latar belakangnya, kehidupannya di luar layar. Tapi setiap kali aku mulai bertanya lebih dari yang biasanya, dia menghilang sejenak, seperti ingin menjauh tanpa benar-benar pergi. Lalu muncul lagi dengan senyum virtual yang membuatku berpikir, mungkin memang aku yang terlalu berharap.
Rasa cemburu bahkan sempat hadir. Bukan karena ada orang ketiga, tapi karena aku tahu betapa sedikitnya aku tahu tentang kehidupannya yang sebenarnya. Mungkin dia juga punya teman lain yang membuatnya tertawa, atau seseorang lain yang lebih nyata, lebih dekat. Dan aku hanya bagian dari ruang digitalnya yang sesekali dia kunjungi saat bosan.
Aku mencoba untuk realistis, tapi perasaan itu tidak pernah bisa diatur dengan logika. Setiap kalimat yang dia kirimkan, terasa seperti pelukan yang tidak bisa kusentuh. Aku ingin percaya bahwa ada perasaan di balik kata-kata itu, tapi bagaimana cara memastikan sesuatu yang bahkan tidak bisa kulihat dengan mata?
Dan di antara semua itu, aku sadar, kalau dia memutuskan untuk pergi hari ini juga, tidak akan ada jejak yang bisa kuikuti. Tidak ada tempat untuk kutanyakan, tidak ada orang yang bisa kutemui untuk mencari tahu kabarnya. Hubungan kami tidak memiliki alamat rumah, hanya ruang kosong di ponsel dan kenangan yang tidak bisa diarsipkan.
Tapi aku tetap di sini, menulis ini dengan perasaan yang campur aduk. Entah mengapa, walau aku tahu semua ini rapuh dan tidak pasti, aku masih memilih untuk tinggal. Karena dalam kerumitannya, aku menemukan kenyamanan. Dan mungkin, meski hanya sebentar, aku ingin percaya bahwa rasa ini nyata, walaupun bentuknya tidak bisa kupeluk.
Kamar Ternyaman, 24 Mei 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar