Selasa, 01 Juli 2025

Rumah Yang Tak Pernah Selesai

 Rumah yang Tak Pernah Selesai

Karya : Pena_Lingga


Aku menulis karena takut lupa. Takut suatu hari kenangan menguap dan tak sempat kupeluk lagi. Aku menulis tentang tangan kecilku yang pernah digandeng di pagi Idulfitri, tentang sendok yang disuapkan seorang ibu yang dulu kusebut ummi, tentang tawa kecil di tepi sungai yang airnya pernah menyapu kakiku dengan lembut. Aku tulis semua itu, agar aku tahu—aku pernah punya rumah, walau kini tinggal reruntuhannya saja.


Setelah badai itu datang—perceraian yang membelah langit masa kecilku—aku tak lagi tahu ke mana harus pulang. Rumah tak lagi memiliki pintu. Ibu dan ayah menjadi dua arah angin yang tak pernah sepakat. Aku dioper seperti boneka tanpa suara. Mereka menyebutku anakku, tapi tak satu pun menggenggamku utuh. Aku tumbuh bersama kesepian yang menyamar jadi kebiasaan.


Hari-hariku diisi sunyi dan kepura-puraan. Orang-orang memanggilku dengan kata cinta, tapi tangan mereka dingin. Aku belajar menjadi kuat, bukan karena ingin, tapi karena tak ada pilihan lain. Ayahku menyuruhku berhenti sekolah, dan Ibu tiriku mencuri malam-malamku. Aku takut bicara, takut kata-kata merusak apa yang sudah setengah hancur.


Lalu aku bekerja. Di usia yang masih bau peluh mimpi, aku mencari aman, bukan cita-cita. CFC menolakku karena umurku terlalu muda. Maka kuterima pekerjaan di stand es, berdiri di antara udara yang dingin dan hati yang retak. Itu pun tak bertahan lama. Aku diusir, dan kembali ke rumah yang tak kupilih—rumah ibu dan lelaki yang kusebut pelaku, bukan ayah.


Kemudian aku dimondokkan. Aku kira itu pesantren, tempat ilmu menenangkan hati. Tapi yang pertama kulihat saat turun dari mobil adalah tulisan Yayasan Yatim Piatu. Hatiku hancur, jatuh ke tanah yang tak bersuara. Aku menangis dalam diam, tapi tetap tinggal. Karena di sana, setidaknya, tak ada tangan yang meraba di gelap. Di sana, setidaknya, malam-malamku lebih aman walau tetap dingin.


Enam tahun kupeluk sunyi di panti. Hafalan demi hafalan kutanamkan di kepala, sambil menunggu kebahagiaan yang dijanjikan waktu. Tapi saat aku lulus, ibu kembali memanggilku. Rumah kembali memelukku dengan dinding yang penuh trauma. Ayah tiriku masih lelaki yang sama. Ibu masih perempuan yang lebih mencintai daripada melindungi. Dan aku, kembali menjadi korban dari cinta yang buta arah.


Aku kembali pada ayah kandungku. Lelaki yang dahulu menyebutku beban, kini kubujuk untuk memberiku tempat berteduh. Tapi yang kudapat adalah pukulan di dini hari, cacian yang tak sempat kupintal jadi doa. Aku terbiasa dipukul. Terlalu biasa sampai air mataku memilih diam. Saat semua menjadi terlalu sunyi, aku kabur. Pergi tanpa pamit, lalu kembali bekerja. Hidupku adalah perjalanan dari luka ke luka.


Di tempat kerja, aku punya mess. Punya teman. Tapi tak punya rumah. Rumah, bagiku, bukan bangunan—melainkan ruang untuk kembali. Tak ada yang menungguku dengan secangkir teh atau pertanyaan sederhana: "Kamu lelah?" Aku bukan ingin mewah. Aku hanya ingin merasa cukup di tengah dunia yang terus menuntut.


Tanah milik keluargaku dijual. Rumah yang seharusnya kubangun sejak kecil kini dimiliki orang lain. Orang tuaku sibuk memuja pasangan masing-masing. Aku hanya bayangan yang hadir saat mereka butuh, dan hilang saat mereka cukup. Aku menepi dari mereka, bukan karena benci. Tapi karena aku ingin menyelamatkan diriku dari karam yang mereka ciptakan.


Kini aku hidup dalam jeda. Di antara gaji bulanan dan malam-malam sunyi yang tak pernah benar-benar tidur. Aku menunggu—bukan bahagia. Tapi titik akhir dari penantian panjang yang tak kunjung bermuara. Entah itu pelukan yang benar-benar hangat, atau mungkin kematian yang datang tanpa luka. Aku tak tahu. Tapi yang jelas: orang tuaku adalah hal terindah yang tak bisa kupeluk, dan trauma terbesar yang tak bisa kulepas.


Kamarku, 01 Juli 2025


# Disclaimer #

Naskah ini terinspirasi dari seorang wanita ( salah satu pengikut akun saya ) cerita dan kisah yang dilampirkan pada DM akun saya, dan saya tulis untuk menjadi sebuah karya, yang saya harap bisa mewakili untuk kalian yang pernah mengalami hal yang serupa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mak, Masihkah Pelukanmu Menungguku ?

 MAK, MASIHKAH PELUKANMU MENUNGGUKU? Karya : Pena_Lingga Mak, andai kelak hujan jatuh tanpa langit, dan malam menanak sunyi di periuk yang t...