Kamis, 03 Juli 2025

Anak Rantau Yang Menyimpan Langit

 Anak Rantau yang Menyimpan Langit


Karya : Pena_Lingga


Aku adalah anak bungsu dari rahim yang menyimpan luka, melangkah pergi menyusuri jejak takdir yang ditulis angin. Dalam ranselku tak hanya pakaian lusuh, tapi juga segenggam harapan orang tua yang menggantung di langit-langit doa. Mereka titipkan langit kepadaku, padahal aku hanya punya payung robek yang tak sanggup menampung hujan.


Di telinga mereka, suaraku riang bagai kecapi, tapi di dada sendiri, jantungku retak bagai genting dimakan waktu. Tiap kali mereka bertanya, aku berbohong sehalus kain sutra, menenun kisah bahwa aku baik-baik saja, padahal aku dihantam badai yang tak pernah selesai diseduh pagi.


Masalah datang seperti arwah tak diundang, duduk di meja makan, menyeduh teh pahit bersama resahku. Ekonomi yang sekarat, pekerjaan yang menggigit, dan pertemanan yang seperti bayang-bayang—ada saat terang, menghilang saat gelap. Aku dikeroyok oleh waktu dan orang-orang yang takut pada cahaya, hanya karena aku tak bisa menyembah gelap.


Kejujuranku jadi kutukan, bukan kemuliaan. Mereka yang terbiasa menyuap kebenaran dengan gula-gula tipu daya, takut padaku yang tak lihai berbohong. Aku bukan ksatria, hanya manusia yang tak pandai pura-pura. Maka saat aku menolak lembur yang tak adil, mereka menudingku durhaka pada sistem yang busuk dari akar.


Tawaku keras, seperti gong dalam upacara duka. Tapi siapa tahu, bahwa di dalamnya tersembunyi reruntuhan? Aku menari bersama luka, menggenggam senyum yang kubuat dari serpih-serpih harapan yang patah. Aku menyembunyikan tangis dalam gua sunyi, karena aku tahu, tak ada yang benar-benar ingin mendengar selain untuk menghakimi.


Aku butuh ruang yang bukan hanya kosong, tapi lapang. Tempat di mana aku bisa runtuh tanpa dipungut kembali. Aku ingin menjadi nyanyian yang didengar tanpa ingin dijawab. Ingin menjadi malam yang boleh gelap tanpa harus disulap jadi pagi hanya karena gelap dianggap lemah.


Kekuatanku kini seperti gunung yang diam—tampak kokoh, padahal perutnya menyimpan lava yang siap meledak kapan saja. Aku terlalu sering berdiri sendiri, hingga lupa bagaimana rasanya bersandar. Aku ingin sebentar saja menjadi hujan, bukan langit. Menjadi tangis, bukan penenang.


Kepada dunia, aku hanyalah kabar baik palsu yang terus dikirimkan dari ponsel yang retak. Tapi di balik layar itu, aku hanyalah anak lelaki yang sedang bertarung dengan sunyi. Yang setiap malam bicara pada bayangan sendiri, menanyakan apakah hidup selalu sekejam ini kepada yang mencoba jujur?


Aku tak meminta banyak. Hanya satu peluk yang tak menuntut. Satu telinga yang tak terburu menyela. Satu dada yang tak sibuk memberi nasihat. Aku hanya ingin menjadi manusia yang juga boleh gagal, boleh rapuh, boleh menepi. Karena aku bukan dewa yang lahir dari mantra—aku hanya anak rantau yang sedang ingin pulang pada siapa pun yang mau mendengar.


Kamarku, 4 juli 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mak, Masihkah Pelukanmu Menungguku ?

 MAK, MASIHKAH PELUKANMU MENUNGGUKU? Karya : Pena_Lingga Mak, andai kelak hujan jatuh tanpa langit, dan malam menanak sunyi di periuk yang t...