Selasa, 15 Juli 2025

Boleh aku iri sebentar ?

Boleh aku iri sebentar ?

karya : Pena_Lingga


Kadang, aku memandang mereka dari kejauhan. Tertawa bersama keluarga, berfoto dengan senyum yang tak dibuat-buat, dan memeluk satu sama lain seakan dunia baik-baik saja. Aku diam, menahan getir dalam dada, bertanya dalam hati—kenapa aku tak seberuntung itu?


Aku sering membayangkan bagaimana rasanya pulang ke rumah yang hangat. Bukan hanya hangat karena dinding dan atapnya, tapi karena ada yang menunggu dengan cinta. Ada yang bertanya, "Sudah makan?" bukan karena kewajiban, tapi karena peduli yang tulus. Hal sederhana yang tak pernah aku punya.


Di dunia ini, aku berjalan sendiri. Seperti pion catur yang disuruh maju, tapi tak pernah benar-benar dianggap penting. Kadang dipakai untuk kepentingan orang lain, kadang dibiarkan begitu saja hingga jatuh tanpa suara. Aku bukan raja, bukan ratu, bahkan bukan kuda—aku hanya pion.


Aku iri, sungguh. Bukan karena mereka punya banyak harta atau kesempurnaan hidup. Tapi karena mereka punya tempat berpulang. Aku lelah menjadi kuat setiap hari, berpura-pura tidak apa-apa saat malam menyiksa dengan sepi yang tak bisa dipeluk siapa-siapa.


Saat aku melihat keluarga utuh di jalan, di media sosial, atau di meja sebelah di warung makan, hatiku remuk diam-diam. Aku tak membenci mereka, aku hanya berharap aku juga bisa seperti itu. Aku ingin tahu rasanya dipeluk tanpa alasan, dirindukan tanpa diminta.


Tuhan tahu aku tidak meminta banyak. Aku hanya ingin sedikit dari yang orang lain anggap biasa. Aku ingin punya panggilan akrab dari seseorang yang menyayangiku bukan karena kewajiban, tapi karena cinta yang tak bisa dijelaskan. Apakah terlalu berlebihan?


Malam-malam panjang adalah temanku yang setia. Aku sering berbicara dengan langit gelap, bertanya entah kepada siapa. Kapan aku bisa merasakan dicintai dengan cara yang tidak menyakitkan? Kapan aku bisa berhenti pura-pura kuat?


Hidup bukan hanya tentang bertahan. Tapi seolah itu satu-satunya pilihan bagiku. Aku harus tetap berjalan, meski tanpa pegangan tangan. Aku harus tetap tersenyum, meski tak ada yang menyambutku di akhir hari. Dunia terus berputar, tapi hatiku diam di tempat yang sama—sendiri.


Aku bukan tidak bersyukur. Aku hanya jujur. Aku hanya manusia yang juga ingin disayangi. Aku hanya seseorang yang kadang merasa kecil di dunia yang terlalu besar, dunia yang terus menguji tanpa jeda. Aku tidak mencari perhatian, aku mencari pengertian.


Jika hidup adalah panggung, maka peranku adalah bayangan di balik tirai. Tak terlihat, tapi selalu ada. Tak disorot, tapi selalu hadir. Aku hanya ingin, walau sekali saja, menjadi seseorang yang dicari saat hilang, dan dirindukan saat diam.


Republik Rubik, 15 Juli 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mak, Masihkah Pelukanmu Menungguku ?

 MAK, MASIHKAH PELUKANMU MENUNGGUKU? Karya : Pena_Lingga Mak, andai kelak hujan jatuh tanpa langit, dan malam menanak sunyi di periuk yang t...