Apa aku sudah kalah
Karya : Pena_Lingga
Ya Tuhan, apa aku sudah kalah oleh rasa trauma ini? Kadang aku berpikir, mungkin aku memang ditakdirkan untuk jatuh lebih dulu sebelum sempat melangkah. Luka-luka itu tumbuh subur di dada, tak terbendung meski aku pura-pura tegar. Setiap malam aku memeluk sunyi seperti sahabat lama, berbicara pada kegelapan, berharap ia menjawab.
Aku mulai takut dengan hari-hari yang datang. Bukan karena aku tak kuat, tapi karena aku terlalu sering berperang sendirian. Aku kehabisan tenaga, bukan karena lelah, tapi karena luka yang kupendam terlalu dalam, terlalu sunyi untuk dimengerti siapa pun. Bahkan aku sendiri tak lagi paham bagaimana cara menyembuhkan diri.
Ada jeda panjang dalam setiap detak jantungku, seperti ragu untuk terus berdetak. Seperti aku, yang ragu untuk terus hidup. Bukan karena aku ingin menyerah, tapi karena aku sudah kehilangan arah. Di titik ini, aku hanya ingin menghilang, bukan mati, hanya tak ingin dilihat, tak ingin diingat.
Aku iri pada mereka yang bisa tertawa tanpa rasa takut. Aku iri pada mereka yang bisa tidur tanpa mimpi buruk datang mengintai. Sementara aku, bahkan untuk tersenyum pun terasa seperti beban. Dunia ini terlalu bising, terlalu ramai, dan aku tak tahu bagaimana cara meminta dunia untuk diam sebentar.
Aku mencoba menjadi kuat, sungguh. Tapi bagaimana bisa bertahan jika setiap kenangan adalah pisau, dan setiap ingatan adalah jerat? Bagaimana bisa sembuh jika yang menyakitiku justru adalah bagian dari diriku sendiri?
Aku mulai lupa rasanya bahagia. Rasanya semua hal indah hanya numpang lewat, sekadar singgah untuk mengingatkan betapa kosongnya hidupku. Aku hanya diam, memeluk rasa sakit, menahan tangis, dan menelan semua luka tanpa suara. Ini bukan hidup, ini hanyalah bertahan.
Orang-orang berkata, waktu akan menyembuhkan segalanya. Tapi tidak dengan trauma. Trauma bukan luka yang bisa sembuh, ia adalah dinding, pagar tinggi yang mengurungku dalam rasa takut yang tak bernama. Aku terjebak, di antara ingin sembuh dan takut terluka lagi.
Aku ingin bicara, tapi tak tahu pada siapa. Aku ingin menangis, tapi takut dianggap lemah. Jadi aku simpan semua ini sendiri. Aku berjalan dengan kepala tegak, tapi di dalam dada ada badai yang tak pernah reda. Kadang aku bertanya, apakah Tuhan masih mendengarku?
Mungkin benar, aku belum kalah. Tapi aku kehabisan cara untuk melawan. Aku hanya ingin duduk, diam, dan membiarkan dunia berjalan tanpa aku. Karena terkadang, bertahan juga terasa menyakitkan. Karena mungkin, kalah oleh trauma tak selalu berarti menyerah. Kadang, itu hanya cara jiwa meminta istirahat.
Jika Tuhan masih mendengarku, aku mohon, peluk aku. Bukan untuk menyembuhkan, tapi agar aku tahu, bahwa meski aku tak baik-baik saja, aku tak sendirian.
Kamarku, 12 Juli 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar