Senin, 03 Februari 2025

LUKA TANPA JEDA

 ( Senandika )

Luka Tanpa Jeda

Karya : Pena_Lingga


Lukaku mengalir tanpa jeda, seperti sungai yang tak tahu kapan harus berhenti. Setiap tetesnya membawa kenangan yang mestinya telah usang, tetapi terus menghidupkan rasa yang seharusnya mati. Aku telah mencoba menghapus jejaknya, menyeka noda yang tertinggal di hatiku, tetapi semuanya sia-sia. Luka itu terus hidup, berdetak seiring dengan napasku, mengiringi setiap langkah yang kutempuh dalam kesunyian.


Ada malam-malam di mana aku berharap kesedihan ini bisa kuhapus begitu saja. Namun, ia malah berakar semakin dalam, mencengkeram batinku tanpa belas kasihan. Aku mencoba melarikan diri, mencari tempat di mana luka ini tak lagi bisa mencium jejakku, tetapi ia selalu menemukanku kembali. Bahkan dalam tidurku, ia datang sebagai mimpi buruk, mengingatkanku pada semua yang telah hilang.


Aku pernah percaya bahwa waktu adalah obat paling mujarab untuk segala luka. Tapi kini aku mengerti, waktu bukanlah penyembuh, ia hanya pengingat yang tak berperasaan. Setiap detik yang berlalu adalah bukti bahwa aku masih di sini, masih membawa beban yang seharusnya sudah kulepaskan. Aku ingin melupakan, ingin berlari sejauh mungkin, tetapi hatiku masih terikat pada rasa sakit yang enggan pergi.


Dunia di sekelilingku tetap berjalan, tidak peduli seberapa dalam luka yang kutanggung. Orang-orang berbicara, tertawa, dan melanjutkan hidup mereka seolah-olah segalanya baik-baik saja. Aku iri pada mereka yang bisa tersenyum tanpa beban, yang bisa mencintai tanpa takut kehilangan, yang bisa melangkah tanpa dihantui oleh bayangan masa lalu. Aku ingin menjadi seperti mereka, tapi entah mengapa aku tetap terjebak dalam kenangan yang menyiksa.


Ada saat-saat di mana aku berpikir untuk menyerah, membiarkan luka ini menelanku sepenuhnya. Tapi entah dari mana, ada suara kecil yang terus memanggilku untuk bertahan. Mungkin itu sisa-sisa keberanian yang dulu pernah kumiliki, atau mungkin hanya ilusi yang kuciptakan agar aku tidak jatuh terlalu dalam. Yang pasti, aku masih di sini, masih berusaha bernapas meski terasa sesak.


Aku telah kehilangan banyak hal dalam hidupku, dan kehilangan itu sendiri telah menjadi sahabat yang akrab. Aku tidak tahu bagaimana rasanya memiliki sesuatu tanpa takut kehilangannya lagi. Setiap ikatan yang kubangun terasa rapuh, setiap harapan yang kupelihara selalu berakhir dalam kekecewaan. Aku lelah percaya, lelah berharap, lelah menginginkan sesuatu yang akhirnya akan pergi juga.


Mereka berkata aku harus belajar menerima. Tapi bagaimana bisa aku menerima sesuatu yang masih menyakitkan setiap kali kuingat? Aku ingin berdamai dengan masa lalu, ingin menganggap semuanya hanya bagian dari perjalanan yang harus kulalui. Tapi kenyataannya, aku masih berdiri di tempat yang sama, tidak mampu melangkah maju, tidak mampu melepaskan apa yang telah menghancurkanku.


Aku bertanya-tanya, apakah ada akhir untuk semua ini? Apakah akan ada hari di mana aku bisa membuka mataku tanpa merasakan beban yang menyesakkan? Atau apakah aku akan selamanya terjebak dalam labirin kesedihan yang kuperangkap sendiri? Aku ingin tahu apakah masih ada cahaya di ujung jalan ini, atau apakah aku hanya berlari dalam kegelapan yang tak bertepi.


Barangkali, pada akhirnya, luka ini bukan sesuatu yang harus kuhilangkan. Mungkin ia adalah bagian dari diriku yang harus kupeluk, harus kusayangi, harus kuterima sebagai bagian dari perjalanan yang membentukku. Mungkin aku harus berhenti berlari, berhenti mencoba melupakan, dan mulai belajar bagaimana hidup berdampingan dengan luka yang ada.


Aku tidak tahu kapan aku akan benar-benar sembuh, atau apakah aku akan sembuh sama sekali. Tapi untuk sekarang, aku akan terus berjalan, meski tertatih, meski dengan luka yang masih terbuka. Aku akan terus bernapas, meski dadaku terasa sesak. Dan aku akan terus hidup, meski sebagian dari diriku telah mati di masa lalu.


Raja Ampat, 03 Februari 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mak, Masihkah Pelukanmu Menungguku ?

 MAK, MASIHKAH PELUKANMU MENUNGGUKU? Karya : Pena_Lingga Mak, andai kelak hujan jatuh tanpa langit, dan malam menanak sunyi di periuk yang t...