Minggu, 23 Februari 2025

GELANG HITAM DI TANGAN KIRIKU

 Gelang Hitam Di Tangan Kiriku

Karya : Pena_Lingga


Sejak kehilanganmu, aku mulai membiasakan diri dengan kesunyian. Tak ada lagi suara lembutmu yang membangunkanku setiap pagi, tak ada lagi pesan singkat yang mengingatkanku untuk menjaga diri. Semua yang dulu terasa hangat kini berubah menjadi kehampaan yang membeku. Aku mencoba menerima, tapi nyatanya aku masih terus berharap bahwa ini semua hanya mimpi yang akan segera berakhir.


Aku melingkarkan gelang hitam di tangan kiriku, bukan sekadar aksesori, melainkan sebagai tanda bahwa ada sesuatu yang telah mati dalam diriku. Rasa ini, cinta ini, semua yang pernah kubangun bersamamu, kini hanya menjadi puing-puing kenangan yang berserakan. Aku ingin membuangnya, tapi seberapa pun aku mencoba, jejakmu tetap melekat di setiap sudut pikiranku.


Dulu, kau selalu menata rambutku dengan penuh canda. Kau bilang aku terlihat lebih tampan saat rambutku rapi, dan aku hanya tertawa, membiarkan tanganmu merapikan helaian-helaian yang berantakan. Tapi kini, aku membiarkannya tumbuh liar, seperti diriku yang kehilangan arah sejak kepergianmu. Tak ada lagi tanganmu yang menyentuh, tak ada lagi suaramu yang menertawakan kekonyolanku. Semua itu telah menjadi bayangan yang hanya bisa kucari dalam ingatan.


Aku sering berjalan sendirian, menyusuri tempat-tempat yang dulu kita kunjungi. Café kecil di sudut jalan tempat kita berbagi cerita, bangku taman tempat kita menertawakan hari, semua masih sama, tapi terasa begitu asing tanpamu. Aku duduk di sana, membiarkan kesedihan mengalir tanpa hambatan, berharap angin bisa membawa pergi rinduku yang semakin berat.


Waktu terus berlalu, tapi luka ini tak juga sembuh. Orang-orang berkata aku harus move on, tapi mereka tak tahu betapa sulitnya menghapus seseorang yang pernah menjadi bagian dari hidupku. Aku mencoba mengalihkan perhatian, menyibukkan diri dengan pekerjaan dan hobi baru, tapi pada akhirnya, di ujung hari, aku tetap kembali pada kenyataan bahwa kau sudah tiada di sisiku.


Setiap malam, aku masih menunggu—bukan menunggu kepulanganmu, karena aku tahu itu mustahil—tapi menunggu waktu mengikis perasaanku perlahan. Namun, semakin aku berharap melupakan, semakin kenangan itu merantai hatiku. Aku ingin bertanya pada semesta, mengapa cinta sebesar ini harus berakhir dengan kehancuran? Mengapa aku harus kehilangan saat aku masih begitu ingin mempertahankan?


Aku menulis namamu di kertas-kertas kosong, hanya untuk kemudian merobeknya dengan putus asa. Aku ingin membuang semua jejakmu, tapi anehnya, aku juga takut saat bayanganmu mulai memudar. Aku terjebak dalam dilema yang menyakitkan—antara ingin melupakan dan ingin terus mengenang.


Malam-malam panjang yang dulu kita habiskan dengan berbicara kini hanya diisi oleh suara detak jam yang memecah kesunyian. Aku menutup mata, berharap suaramu kembali menggema di kepalaku, tapi yang kudapatkan hanyalah hampa. Aku lelah berharap, lelah mencintai sesuatu yang sudah tak bisa kugenggam.


Jika waktu bisa diajak berkompromi, aku ingin memohon satu hal saja: biarkan aku melupakan segalanya. Aku ingin berhenti bertanya-tanya tentang kita yang tak lagi ada. Aku ingin melepaskan semua yang pernah kupeluk erat, sebab mencintaimu kini tak lagi membawa bahagia, hanya perih yang semakin mengakar.


Tapi nyatanya, bahkan hingga saat ini, aku masih mencarimu dalam sepi. Aku masih melihat bayanganmu di setiap sudut kota, masih mendengar suaramu dalam gemerisik angin. Dan mungkin, begitulah akhirnya—aku akan terus terjebak dalam rindu yang tak berbalas, mencintai seseorang yang telah lama pergi, sampai aku sendiri tak lagi ada.


Raja Ampat, 23 Februari 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mak, Masihkah Pelukanmu Menungguku ?

 MAK, MASIHKAH PELUKANMU MENUNGGUKU? Karya : Pena_Lingga Mak, andai kelak hujan jatuh tanpa langit, dan malam menanak sunyi di periuk yang t...