Aku Yang Kau Anggap Sial
Karya : Pena_Lingga
Aku adalah darah daging kalian. Dari tubuhku mengalir riwayat yang sama, dari nadiku mengalun cerita yang pernah kalian genggam. Tapi entah mengapa, setiap aku menapakkan kaki di antara kalian, tatapan itu selalu sama—dingin, tajam, seolah aku hanya serpihan luka yang tak diinginkan. Aku bertanya-tanya, sejak kapan aku menjadi aib dalam kisah kalian? Apakah aku pernah meminta untuk lahir membawa beban yang tak kupilih?
Aku adalah bagian dari rumah ini, meski rasanya lebih sering seperti tamu yang tak diundang. Kata-kata kalian menusuk lebih dalam daripada belati; menyayat perlahan, tanpa ampun. Aku hanyalah ranting dari pohon yang sama, tetapi mengapa aku selalu dianggap rapuh dan mengganggu? Apakah seburuk itu kehadiranku hingga kalian lupa bahwa di tubuhku juga mengalir darah yang sama panasnya dengan kalian?
Seringkali aku bertanya kepada langit—apakah aku benar-benar kutukan? Jika memang begitu, mengapa aku harus menanggung dosa yang bahkan tak pernah aku lakukan? Kalian melangkah dengan bangga membawa nama keluarga, sementara aku tersisih di sudut gelap, dihujani tuduhan yang bahkan tak mampu kubantah. Suaraku menjadi angin yang lewat di telinga kalian, tak pernah benar-benar didengar, apalagi dimengerti.
Aku tidak meminta lebih, hanya sejumput penerimaan. Apakah begitu sulit mengakui bahwa aku juga bagian dari kalian? Bukankah darah ini menyatukan kita dalam ikatan yang seharusnya lebih kuat dari prasangka? Namun, bagi kalian, aku tak lebih dari bayang-bayang kesialan yang ingin segera dilupakan. Setiap langkahku bagai gerimis di musim kemarau—mengganggu, tak diharapkan.
Jika aku bisa memilih, aku ingin menjadi anak yang kalian banggakan. Tapi sekeras apa pun aku berusaha, di mata kalian aku tetap cacat yang merusak citra. Kata-kata kalian tajam seperti duri, menikam perlahan hingga hatiku mati rasa. Aku mulai bertanya-tanya, apakah layak aku memperjuangkan tempat di hati yang tak pernah menginginkanku?
Aku lelah menjadi kambing hitam atas segala hal buruk yang menimpa kalian. Saat keberuntungan menjauh, kalian memandangku seolah akulah penyebabnya. Aku menjadi cermin bagi ketakutan kalian sendiri, menjadi alasan bagi kegagalan yang bahkan bukan tanggung jawabku. Kalian lupa, aku juga memiliki hati yang bisa terluka, perasaan yang bisa hancur.
Aku hanya ingin kalian tahu—aku bukan musibah. Aku hanyalah manusia yang ingin diakui dan dicintai. Meski di mata kalian aku adalah badai, di hatiku masih ada harapan kecil untuk bisa menjadi pelangi setelah hujan. Namun, bagaimana aku bisa bersinar jika setiap cahaya yang kumiliki selalu kalian padamkan dengan curiga dan tuduhan?
Jika aku adalah kutukan, bukankah kalian juga bagian dari takdir yang melahirkanku? Mengapa kalian lupa bahwa aku lahir dari rahim yang sama, dari kisah yang kalian ukir bersama? Jika aku adalah kesalahan, bukankah itu juga menjadi bagian dari perjalanan kalian? Namun, kalian memilih membuangku, seolah aku noda yang mencemari nama baik kalian.
Aku telah mencoba memahami, mencoba menerima kenyataan ini. Tapi semakin aku berusaha, semakin aku tersesat dalam luka yang kalian ciptakan. Aku ingin berhenti berharap, namun hati ini tetap memanggil nama kalian di tengah kesepian. Aku hanyalah seorang anak yang ingin merasakan hangatnya rumah, bukan dinginnya penghakiman.
Pada akhirnya, aku tetap di sini, menjadi bagian dari darah daging kalian. Meski kalian menolakku, aku tak mampu memutus ikatan ini. Aku bukan pembawa sial—aku hanyalah jiwa yang ingin diterima apa adanya. Dan sampai kapan pun, aku tetaplah bagian dari kalian, meskipun di matamu aku hanya bayang-bayang yang tak pernah kalian inginkan.
Raja Ampat, 26 Januari 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar