Aku Di Vonis Patah Hati Paling Sekarat. Part2
Karya : Pena_Lingga
Aku divonis patah hati paling sekarat, dan dunia seakan merayakan kepergianku dengan sunyi. Seperti daun yang jatuh dari tangkainya, aku melayang tanpa arah, menunggu angin membawaku ke mana pun ia mau. Tak ada yang peduli apakah aku akan terhempas ke tanah yang lembut atau remuk di aspal kehidupan yang tak mengenal iba.
Luka ini menjelma samudra yang menenggelamkanku perlahan. Aku berenang, tapi gelombang kenangan terus menyeretku ke dasar. Nama dan suaramu bergema di antara riak-riak ingatan, memanggilku untuk kembali, padahal aku tahu, tak ada yang menungguku di sana selain kehampaan.
Kuhitung hari tanpa kehadiranmu, seperti seorang tahanan yang menghitung masa hukumannya. Tapi waktu bukan sekadar angka yang bisa kutandai, ia adalah belati yang menikam tanpa ampun. Setiap detik adalah pisau yang mengiris luka lama, memastikan ia tetap menganga, memastikan aku tak lupa bagaimana rasanya kehilangan.
Malam-malam panjang berubah menjadi ruang hampa yang dipenuhi bayanganmu. Aku berbicara kepada sepi, tapi sepi hanya membalas dengan gema perasaanku sendiri. Seakan-akan dinding kamar ini menyerap segala kesedihan, lalu melepaskannya kembali saat aku berusaha tidur.
Aku menulis namamu di udara, berharap angin bisa membawanya kembali kepadamu. Tapi angin bukan penyampai pesan yang setia, ia hanya meniupkan perih ke dalam relung hati yang sudah rapuh. Aku ingin berlari, menjauh dari jejak-jejak yang pernah kita tinggalkan bersama, tapi kakiku seakan ditanam dalam ingatan yang tak mau melepaskan.
Di tengah kehancuran ini, aku bertanya pada Tuhan, apakah mungkin cinta yang begitu besar berubah menjadi sesuatu yang begitu menyakitkan? Apakah aku yang salah, atau memang begitulah cara semesta mengajarkan manusia tentang kehilangan? Tapi tak ada jawaban, hanya sunyi yang semakin menyesakkan.
Aku mencoba membangun dinding di sekeliling hati, tapi kenanganmu datang seperti badai, merobohkan semuanya dengan mudah. Aku ingin membencimu, tapi bagaimana mungkin membenci seseorang yang pernah menjadi rumah bagi hatiku? Aku ingin melupakan, tapi kenanganmu terukir seperti tinta yang menolak pudar.
Waktu terus berjalan, tapi aku tetap terjebak di persimpangan antara merelakan dan berharap. Seperti burung dengan sayap terluka, aku tahu aku harus terbang, tapi langit terlalu jauh dan tanah terlalu dingin. Aku hanya bisa diam, menunggu luka ini menemukan cara untuk sembuh sendiri.
Mungkin suatu hari, aku akan melihatmu lagi tanpa merasakan sesak di dada. Mungkin suatu hari, namamu hanya akan menjadi bisikan samar yang tak lagi melukai. Mungkin suatu hari, aku akan belajar bahwa cinta sejati bukanlah tentang memiliki, tapi tentang melepaskan dengan hati yang utuh.
Namun untuk saat ini, aku masih di sini—meraba-raba cahaya di tengah gelap, belajar menerima bahwa patah hati bukanlah akhir dari segalanya. Meski perih, aku tahu, di balik luka ini ada sebuah pelajaran yang kelak akan mengajarkanku cara mencintai tanpa takut kehilangan.
Raja Ampat, 14 Februari 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar