Bisikanku Pada Malam Luka
Karya : Andi Irwan
Kini aku berbisik pada malam, ketika langit semakin gelap, dan hanya bulan yang tampak setia menemani. Di antara sunyi yang mendalam, hatiku bergetar, penuh dengan pertanyaan yang belum terjawab. Mengapa aku yang selalu menawarkan tangan, yang selalu memberi tanpa ragu, justru menjadi tempat persinggahan luka bagi mereka yang datang? Tidakkah aku layak untuk merasa tenang, untuk menjadi tempat berlindung tanpa harus membawa beban mereka yang datang dan pergi?
Aku sering berpikir, apakah aku yang salah karena selalu memberi tanpa batas? Apakah ketulusan yang kupertaruhkan justru menjadikan aku sasaran untuk kesedihan dan kepedihan orang lain? Mungkin aku terlalu mudah membuka hati, terlalu mudah menerima siapa saja, tanpa menyadari bahwa kadang-kadang, bukan semua orang datang untuk memberi kebaikan. Beberapa datang hanya untuk meninggalkan luka, dan aku, dengan segala kelemahan, tak mampu menahan segala rasa itu.
Namun, malam ini, aku tak bisa lagi menahan perasaan ini. Aku mulai bertanya pada diri sendiri, apakah keikhlasan harus selalu dibayar dengan luka? Apakah itu adalah bagian dari takdir yang harus kujalani, atau justru aku yang salah menilai segala sesuatu? Aku ingin berteriak pada langit, meminta kejelasan, tapi hanya hening yang menjawab. Aku merasa kosong, seperti kehilangan arah dalam hidup yang penuh dengan teka-teki.
Aku ingin menenangkan diriku, mengatakan pada hati bahwa setiap luka pasti ada akhirnya. Tapi kenyataannya, luka itu datang silih berganti, dan aku pun semakin lelah. Mengapa aku yang selalu memberi, yang selalu berusaha memahami, justru harus menanggung beban yang berat? Bukankah sudah seharusnya aku mendapatkan kedamaian, setelah sekian lama menjadi tempat berlindung bagi orang lain? Mungkin aku terlalu berharap pada sesuatu yang tak kunjung datang.
Namun, ada satu hal yang tak bisa kuabaikan: aku masih mencintai semua yang datang padaku. Aku masih berharap mereka bisa menemukan kebahagiaan meski aku harus menanggung segala kesedihan itu sendiri. Mungkin ini adalah caraku untuk tetap berdiri, untuk tetap setia pada prinsip hidupku, meskipun dunia sering kali memberi aku luka yang tak terhingga. Aku memilih untuk tetap memberi, meski itu artinya aku harus mengorbankan bahagiaku sendiri.
Di bawah langit yang penuh bintang, aku mengangkat doa terakhirku malam ini. Aku meminta pada Tuhan, agar memberikan kekuatan untuk menjalani jalan ini, agar aku tak kehilangan hatiku yang penuh kasih. Aku tahu luka itu takkan pernah hilang sepenuhnya, tapi aku juga tahu, dalam setiap doa yang kuucapkan, ada harapan bahwa suatu saat nanti, aku akan menemukan kedamaian yang aku cari. Hingga saat itu tiba, aku akan tetap berdiri, meski dunia terus menguji ketulusan hatiku.
Sorong, 19 Januari 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar