Senin, 13 Juli 2026

Tidak Benar-benar Sembuh

 

Tidak Benar-benar Sembuh
Karya : Pena_Lingga

Hai, kali ini aku kembali dengan cerita yang kemarin belum sempat selesai kutuliskan. Jangan bosan, ya. Sebab lagi-lagi, yang ingin kuceritakan masih tentang luka yang kamu tinggalkan. Luka yang sampai hari ini belum benar-benar tahu caranya pulang.

Semenjak kamu beranjak, aku tidak pernah benar-benar sembuh. Aku juga tidak pernah benar-benar berdamai dengan diriku sendiri. Mungkin terdengar bodoh, mungkin juga terdengar berlebihan. Tapi beginilah bentuk kejujuran yang paling sulit aku bohongi.

Masih banyak yang tertinggal di kepalaku. Potongan percakapan, tawa, kebiasaan kecilmu, dan semua hal yang dulu terasa biasa, kini justru menjadi alasan mengapa aku sering diam terlalu lama. Ternyata, melupakan tidak semudah yang dikatakan orang-orang.

Aku masih merindukanmu. Bukan karena aku tidak punya siapa-siapa, melainkan karena tidak semua orang mampu menggantikan seseorang yang pernah menjadi rumah. Dan sayangnya, rumah itu kini hanya tinggal alamat yang tidak bisa lagi aku datangi.

Sekarang, aku dan kamu hanyalah sebuah cerita di dalam buku yang tidak pernah diberi akhir yang indah. Cerita yang terhenti di tengah jalan, lalu dipaksa selesai oleh keadaan, bukan oleh keinginan dua orang yang pernah saling mencintai.

Aku pernah mencoba mengarang akhir cerita itu. Kubuat semuanya tampak baik-baik saja. Kubayangkan kita berpisah dengan senyum, saling mendoakan, lalu sama-sama bahagia. Padahal semua itu hanya cara paling sederhana untuk menenangkan hatiku sendiri setiap kali rindu datang tanpa permisi.

Namun sialnya, kenyataan selalu lebih jujur daripada angan-anganku. Ia berkali-kali menarikku kembali pada realita yang sesungguhnya. Bahwa aku adalah seseorang yang mencintai dengan tulus, tetapi ditinggalkan begitu saja. Bahkan, tanpa satu kalimat pamit yang layak untuk dikenang.

Mungkin suatu hari nanti aku akan benar-benar sembuh. Atau mungkin hanya akan terbiasa hidup dengan kehilangan ini. Entahlah. Yang aku tahu, setiap kali namamu lewat di dalam kepala, luka itu seperti baru saja terjadi. Dan sampai hari ini, aku masih menjadi orang yang diam-diam berharap pada seseorang yang sudah lama memilih pergi.

Sampano, 14 Juli 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anak Kecil Yang Kehilangan Pundaknya

  Anak Kecil Yang Kehilangan pundaknya Oleh : Pena_Lingga Untuk anak sepertiku yang kehilangan pundaknya sejak masih kecil, sore selalu te...