Senin, 02 Maret 2026

Tuhan, Ini Bukan Salahku Kan ?

 

TUHAN, INI BUKAN SALAHKU KAN ?
Oleh : Pena_Lingga

Tuhan, ini bukan salahku, kan? Bukan salahku lahir dari keluarga yang sederhana dan serba terbatas. Aku sering mengulang kalimat itu sendirian, bukan untuk menyalahkan keadaan, tapi hanya untuk menenangkan diri agar pikiranku tidak terus dipenuhi rasa bersalah yang sebenarnya tidak pernah kupilih.

Biasanya kalimat itu muncul saat malam sudah benar-benar sunyi. Ketika orang-orang tertidur dengan tenang setelah hari yang melelahkan, aku justru terjaga dengan banyak pikiran di kepala, memikirkan hal-hal yang tidak bisa kuhentikan meski tubuh sudah meminta istirahat.

Aku tidak iri dengan kehidupan orang lain yang terlihat lebih mudah. Aku hanya lelah harus selalu menerima kenyataan bahwa aku harus berjuang lebih keras untuk hal-hal yang bagi sebagian orang bisa didapatkan tanpa banyak usaha.

Sejak kecil aku belajar memahami keadaan keluarga. Aku belajar menahan keinginan, mengalah dengan keadaan, dan menerima bahwa tidak semua hal bisa kudapatkan meskipun aku sudah berusaha dan berharap dengan sungguh-sungguh.

Aku jarang bercerita tentang apa yang kurasakan. Bukan karena aku tidak punya cerita, tapi karena aku takut keluhanku terdengar berlebihan, takut dianggap tidak tahu bersyukur, dan akhirnya memilih menyimpan semuanya sendiri.

Di depan orang lain, aku berusaha terlihat baik-baik saja. Aku tetap tersenyum, berbicara seperlunya, dan menjalani hari seperti tidak ada beban, meskipun sebenarnya banyak hal yang kupendam sendirian.

Di dalam kepala, pikiranku tidak pernah benar-benar tenang. Ada kecemasan tentang masa depan, tentang tanggung jawab yang semakin besar, dan tentang rasa takut gagal yang terus menghantui setiap kali aku mencoba melangkah lebih jauh.

Aku sering bertanya pada diriku sendiri sampai kapan hidup akan berjalan seperti ini. Berjuang tanpa henti, menahan lelah, dan terus berharap bahwa semua usaha ini suatu hari akan membawa perubahan yang nyata.

Meski sering merasa lemah, aku tetap bertahan menjalani hari. Bukan karena aku merasa kuat, tapi karena aku sadar berhenti bukan pilihan, dan menyerah hanya akan membuat semua perjuangan ini menjadi sia-sia.

Aku hanya berharap suatu hari nanti aku bisa bernapas lebih lega. Bahwa semua lelah, semua sabar, dan semua usaha yang kulalui hari ini benar-benar punya arti, dan aku bisa mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku tidak salah karena terlahir sederhana.

Bilik Sunyiku, 3 Maret 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mak, Masihkah Pelukanmu Menungguku ?

 MAK, MASIHKAH PELUKANMU MENUNGGUKU? Karya : Pena_Lingga Mak, andai kelak hujan jatuh tanpa langit, dan malam menanak sunyi di periuk yang t...