Aku Yang Sudah Akrab Sama Lukanya
Oleh : Pena_Lingga
Iya, benar. Aku pernah sakit oleh luka yang kau tinggalkan. Rasanya waktu itu seperti ada bagian dari diriku yang ikut pergi bersamamu. Hari-hari terasa lebih panjang dari biasanya, dan malam sering kali terlalu sunyi untuk dihadapi sendirian. Tapi untuk saat ini, luka itu telah pulih. Tidak sepenuhnya hilang, tapi sudah cukup tenang untuk tidak lagi mengganggu langkahku.
Kecewa pun akhirnya berubah menjadi sesuatu yang aneh. Ia tidak lagi terasa seperti musuh yang harus dihindari. Justru sekarang ia seperti sahabat lama yang terlalu akrab dengan hidupku. Kadang aku bisa duduk bersamanya dalam diam, tanpa perlu bertanya kenapa semuanya pernah terjadi. Bahkan, di kesunyian seperti ini, aku bisa mengajaknya menari pelan bersama kenangan yang dulu terasa menyakitkan.
Dan ya, benar juga. Dulu aku pernah kebingungan saat mencoba merumuskan sebuah hubungan: seharusnya berakhir seperti apa. Aku memikirkan terlalu banyak kemungkinan, terlalu banyak pertanyaan yang tak punya jawaban pasti. Saat itu aku baru sadar, merumuskan perasaan ternyata jauh lebih rumit daripada rumus matematika yang pernah kita pelajari di sekolah.
Matematika selalu punya jawaban yang jelas. Jika caranya benar, hasilnya pasti sama. Tapi perasaan tidak pernah bekerja seperti itu. Kita bisa melakukan segala hal dengan niat yang baik, namun tetap saja akhirnya bisa berbeda dari yang kita harapkan. Kadang justru hal yang paling kita jaga dengan sungguh-sungguh adalah hal yang paling mudah hilang.
Aku pernah mencoba mencari jawabannya dengan berbagai cara. Mengulang kenangan satu per satu, menimbang kesalahan yang mungkin pernah kulakukan, bahkan berkali-kali menyalahkan diriku sendiri. Aku pikir jika semua itu dianalisis dengan cukup teliti, aku akan menemukan alasan yang masuk akal. Bahwa semua ini pasti memiliki sebab yang bisa dijelaskan.
Namun semakin lama aku mencari, jawabannya justru semakin jauh. Seolah-olah ada bagian dari cerita kita yang memang tidak ditakdirkan untuk dipahami sepenuhnya. Dan mungkin memang tidak semua hal di dunia ini perlu dijelaskan dengan kata-kata. Ada perasaan yang hanya bisa diterima, tanpa perlu dimengerti sepenuhnya.
Pada akhirnya aku mulai mengerti sesuatu yang sederhana. Bahwa ada perpisahan yang memang terjadi begitu saja. Bukan karena seseorang lebih buruk dari yang lain, bukan juga karena kurangnya usaha. Kadang dua orang hanya berjalan cukup jauh bersama, lalu tanpa sadar harus memilih jalan yang berbeda.
Dulu aku sempat berharap waktu akan berhenti sebentar. Memberi kita kesempatan untuk memperbaiki apa yang sempat retak di tengah perjalanan. Tapi waktu ternyata tidak pernah benar-benar peduli pada harapan seperti itu. Ia terus berjalan, membawa kita ke arah yang mungkin tidak pernah kita rencanakan sebelumnya.
Sekarang semuanya terasa lebih tenang. Tidak lagi seberisik dulu di dalam kepala, tidak lagi seberat dulu di dalam dada. Beberapa kenangan memang masih datang sesekali, seperti tamu lama yang tiba-tiba mengetuk pintu di malam hari. Ia hadir tanpa permisi, hanya untuk mengingatkan bahwa pernah ada cerita yang begitu berarti.
Bedanya, sekarang aku tidak lagi panik saat ia datang. Aku hanya membiarkannya duduk sebentar, menemani kesunyian, lalu pergi lagi dengan sendirinya. Mungkin begitulah cara hati belajar dewasa—bukan dengan melupakan semuanya, tetapi dengan menerima bahwa tidak semua cerita harus dimiliki sampai akhir.
Bilik Sunyiku, 11 Maret 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar