Sabtu, 27 September 2025

Bukan Diriku Sebenarnya

 Bukan Diriku Sebenarnya

Karya: Pena_Lingga


Aku pernah berusaha jadi versi terbaik dari diriku. Bukan karena aku tak punya identitas, tapi karena aku ingin kau nyaman di sisiku. Tapi ternyata semakin aku mencoba, semakin aku merasa hampa. Aku berdiri di depanmu, lengkap dengan segala luka, dan kau tetap memandangku seperti kesalahan yang harus diperbaiki.


Aku menyimpan setiap kecewa seperti notifikasi yang tak pernah kubuka. Diam-diam menumpuk, mengendap, lalu jadi racun. Aku ingin percaya bahwa aku cukup, bahwa aku bisa jadi rumah buatmu. Tapi aku lupa, rumah yang baik tidak pernah dipaksa dibangun di atas fondasi orang lain.


Aku pernah mengira cinta itu tentang mengalah tanpa batas. Tentang belajar dari nol agar serupa dengan yang kau mau. Tapi semakin aku meniru, semakin aku kehilangan bahasa asliku. Aku jadi orang asing di depanmu, juga di depan diriku sendiri.


Ada suara di dalam kepala yang terus berteriak, “Hei, sadarlah! Ini bukan kamu.” Tapi aku mematikan volume-nya berkali-kali, takut kalau aku benar-benar mendengar. Sekarang suara itu tidak lagi berbisik, ia memukul dadaku seperti dentuman musik yang tak bisa ku-pause.


Aku mulai takut. Bukan takut kehilanganmu, tapi takut kehilangan aku sendiri. Aku mulai sadar bahwa cinta seharusnya jadi tempat pulang, bukan penjara dengan dinding ekspektasi. Aku mulai sadar aku tidak bisa lagi memaksa diriku jadi orang lain hanya untuk diterima.


Aku ingin berhenti minta maaf karena tidak bisa mencintaimu seperti orang lain. Aku ingin berhenti menulis ulang diriku hanya untuk sesuai dengan naskah yang kau buat. Aku ingin berhenti dari kalimat “Aku akan berubah untukmu” yang selalu jadi mantra paling menyakitkan.


Cintaku mungkin terlalu sederhana, terlalu biasa untukmu. Tidak penuh kejutan, tidak mewah, tidak seperti yang kau lihat di layar-layar film favoritmu. Tapi cintaku nyata. Tulus. Jujur. Dan itu saja ternyata tidak cukup untukmu.


Aku lelah. Lelah mengejar standar yang tidak pernah selesai. Lelah jadi eksperimen yang harus terus diuji. Aku ingin kembali jadi diriku sendiri. Aku ingin menemukan bentuk cintaku tanpa harus selalu merasa salah.


Maka aku pamit. Bukan pamit penuh drama, bukan pamit dengan kata-kata manis yang kau suka. Aku pamit dengan dada kosong, dengan mata yang sudah kering menangis. Aku pamit dengan satu doa: semoga kau menemukan cinta yang tidak perlu kau bentuk ulang.


Dan jika suatu saat kau rindu, mungkin yang kau rindu bukan aku. Mungkin hanya versi yang pernah kuciptakan untukmu. Versi palsu yang kubunuh pelan-pelan. Kini aku pergi, dengan sisa-sisa diriku yang masih bisa kuselamatkan.


Bilik Sunyi, 27 September 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mak, Masihkah Pelukanmu Menungguku ?

 MAK, MASIHKAH PELUKANMU MENUNGGUKU? Karya : Pena_Lingga Mak, andai kelak hujan jatuh tanpa langit, dan malam menanak sunyi di periuk yang t...