Aku Ingin Pulang
Karya: Pena_Lingga
Aku ingin pulang. Ke sebuah tempat di mana kata "rumah" benar-benar berarti. Bukan hanya bangunan dengan pintu dan jendela, melainkan pelukan yang tak menanyakan aku siapa, bagaimana rupaku, apa pekerjaanku, atau apa yang pernah gagal aku lakukan. Aku ingin pulang ke tempat yang mau menerima segala retak dan utuhku, tanpa perhitungan dan tanpa syarat.
Namun, setiap pintu yang pernah aku ketuk, selalu menanyakan kartu nama, isi dompet, atau rupa yang tak pernah cukup menawan. Aku hanya ingin duduk, diam, dan disapa sebagai manusia. Tapi ternyata, dunia terlalu sibuk menilai kulit luar dan lupa bahwa ada jiwa yang diam-diam ingin dirawat.
Rumah—yang kupikir adalah tempat paling hangat—kadang justru menjadi alasan tubuhku menggigil di dalam selimut tipis. Suara-suara di sekitarnya bukan lagi lagu pengantar tidur, melainkan dengung dingin yang membuat aku jatuh sakit, pelan-pelan. Aku merasa menjadi tamu di ruanganku sendiri.
Sejak itu, aku mulai mengerti: tak semua atap layak disebut rumah, dan tak semua orang yang tersenyum benar-benar menginginkan kita tinggal lama. Ada yang hanya butuh kehadiranmu untuk sebentar, lalu menutup pintu dengan rapi, seolah kamu tak pernah ada.
Aku ingin pulang. Bukan pada alamat, bukan pada kota, bahkan bukan pada seseorang. Tapi pada perasaan yang hilang: rasa diterima. Rasa aman. Rasa bahwa aku boleh runtuh tanpa takut ditinggalkan. Aku merindukan pelukan yang tak pernah sibuk mengukur berapa besar yang bisa aku beri.
Di tengah malam yang panjang, aku sering bertanya pada langit: adakah rumah itu benar-benar ada? Atau hanya ilusi yang kuciptakan agar aku punya alasan untuk bertahan? Aku takut jawaban itu terlalu menyakitkan, tapi aku lebih takut jika aku benar-benar tidak punya tempat untuk pulang.
Kadang aku berpura-pura kuat. Membiarkan dunia percaya bahwa aku baik-baik saja. Padahal, setiap kali aku menutup mata, yang aku rindukan hanyalah satu: pintu yang selalu terbuka, entah aku datang dengan luka, entah aku datang dengan air mata.
Mungkin rumah yang kucari bukan di luar sana. Mungkin rumah itu harus kuciptakan sendiri di dalam dada. Sebuah ruang kecil di mana aku bisa memeluk diriku sendiri, tanpa menuntut, tanpa mengusir, tanpa mengukur. Karena barangkali, pulang sejati bukanlah soal tempat, melainkan keberanian untuk menerima diri yang sering ditolak dunia.
Dan malam ini, sekali lagi aku berbisik pada semesta: aku ingin pulang. Kalau bukan pada manusia, maka biarlah aku pulang pada Tuhan yang tak pernah menanyakan apa-apa, selain kesediaanku untuk kembali.
Kamarku, 26 September 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar