Rabu, 12 Maret 2025

👻DENDAM

 DENDAM

Karya : Pena_Lingga


Malam mencekam. Angin berembus dingin, membawa aroma tanah basah yang bercampur dengan bau busuk. Pohon randu di belakang rumah berdiri kokoh, akar-akarnya mencengkeram bumi seolah menyembunyikan sesuatu.


Aku duduk bersila di beranda, menyalakan dupa. Kopi hitam mengepul dalam cangkir, rokok di tangan perlahan terbakar. Udara mendadak terasa lebih berat, lebih dingin.

Lalu, wangi melati menyeruak tajam.


" Keluarlah, Aku tau kau ada disini "


"Kuntilanak... Kuntilanak...kuntilanak, Keluarlah.."



Dari balik pohon randu, sosok itu muncul. Gaun putihnya compang-camping, penuh noda tanah dan bercak darah mengering. Rambut panjangnya kusut, wajahnya pucat, matanya hitam legam seperti lubang tanpa dasar.


Ia berjalan tertatih, tubuhnya berguncang menahan isak.


Hiii... hiii... hiii...


" Hei ! Manusia Laknat,Pendosa"

"Apa kau tau, bahwa Aku... mati di sini..." 

"Mereka membunuhku... mereka menyiksaku... mereka Memperkosaku dan tertawa saat aku menangis..."


" Hiii...hiii...hiii.."


"Aku berteriak... aku memohon... aku merintih... Tapi mereka tidak peduli! Mereka mencabik tubuhku, menendangku, menusukiku dengan pisau! Kulitku robek, darahku mengalir... aku kesakitan... aku menggigil..."

"Lalu mereka menyeretku ke sini... ke bawah pohon randu ini... Aku masih hidup saat itu!"


Ia tertawa pelan, tawa yang serak dan dingin.


"Aku bisa mendengar suara mereka... Aku bisa merasakan tanah menimbunku... Aku mencoba menggaruk tanah, mencoba keluar... Tapi tubuhku semakin lemah... Nafasku semakin pendek... Aku mati perlahan..."


Ia menatapku tajam, matanya mulai berkilat merah.


"Tapi mereka salah... Mereka pikir aku sudah lenyap... Mereka pikir mereka bisa melupakanku..."


Suaranya berubah menjadi lebih dalam, penuh amarah.


"Aku akan datang pada mereka... Aku akan menyusup ke dalam mimpi mereka... Aku akan berdiri di sudut kamar mereka, menatap mereka saat mereka tidur..."


Ia mendekat, sangat dekat, hingga aku bisa mencium bau anyir dari tubuhnya.


"Aku akan berbisik di telinga mereka..." suaranya berubah menjadi lirih. "Aku akan membuat mereka merasa apa yang aku rasakan... Aku akan menyentuh kulit mereka dengan jari-jari dinginku... Aku akan menindih mereka di ranjang, membuat mereka tak bisa bergerak..."


Ia tertawa lagi, lebih kencang, lebih menyeramkan.


"Aku akan mencakar tubuh mereka, menyayat kulit mereka, menusukkan jari-jariku ke mata mereka... Aku akan menyeret mereka ke bawah pohon randu ini! Aku akan membuat mereka mati perlahan... sama seperti yang mereka lakukan padaku..."


Angin tiba-tiba berembus kencang, nyala dupa bergetar hebat. Daun-daun randu berguguran, suara-suara aneh berbisik di sekitarku.


Ia mengangkat tangannya tinggi, matanya kini merah menyala.


"MEREKA AKAN MERASAKAN SIKSAKU!!!"


Dalam sekejap, tubuhnya melayang ke udara, rambutnya berkibar liar, gaunnya mengepak seperti sayap.


Lalu, ia menghilang.


Tapi aku tahu...


Ia sedang menuju mereka yang telah membunuhnya.

Dan mereka... tidak akan bisa lari.



Samarinda, 13 Maret 2025


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mak, Masihkah Pelukanmu Menungguku ?

 MAK, MASIHKAH PELUKANMU MENUNGGUKU? Karya : Pena_Lingga Mak, andai kelak hujan jatuh tanpa langit, dan malam menanak sunyi di periuk yang t...