Sabtu, 01 Februari 2025

SEJAK SAAT ITU NAMAMU MASIH TRRSIMPAN RAPI

 Sejak saat itu, namamu masih tersimpan rapi 

Karya : Pena_Lingga


pada buku puisiku. Tak ada yang bisa menghapusnya, meskipun waktu terus berjalan dan mengikis segala hal. Setiap lembar halaman yang kuuntai adalah tempatmu yang abadi, tempat di mana kenangan kita tak akan terlupakan. Kau tetap ada, meski hanya dalam bentuk kata-kata yang kutulis dengan hati.


Di setiap bait, aku merasakan kehadiranmu, meski tak lagi bisa memandang wajahmu langsung. Kau hadir dalam setiap ruang kosong yang kubiarkan tertulis, dalam setiap kata yang terjuntai seolah-olah menggenggammu kembali. Nama itu, yang dulu begitu nyata, kini menjadi bayang-bayang yang menari di antara huruf-huruf.


Setiap kali pena menyentuh kertas, aku merasa seolah-olah sedang berbicara denganmu. Seperti sebuah percakapan tanpa suara, tanpa suara yang keluar dari mulut, namun penuh dengan makna yang mendalam. Ada sebuah keheningan yang menyelimuti setiap kata, yang hanya bisa kau dan aku pahami.


Aku membiarkanmu tetap ada dalam setiap baris yang kutulis, meski dunia di luar sana telah berubah begitu cepat. Namun, dalam dunia puisiku, segala sesuatu berjalan lambat, seperti sebuah waktu yang tertahan, memberikan ruang untuk kenangan kita. Ada sesuatu yang tak pernah bisa tergantikan, bahkan oleh waktu sekalipun.


Tapi puisi ini bukan sekadar tempat untuk mengenang. Setiap kata adalah bentuk dari sebuah pencarian, pencarian akan apa yang telah hilang. Nama yang aku tulis bukan hanya nama semata, melainkan sebuah cerita, sebuah kisah yang pernah kita jalani bersama. Kisah yang tak bisa lagi diulang, namun tetap hidup dalam setiap baris kalimat.


Aku tahu, meskipun aku menuliskan namamu berkali-kali, tak akan ada yang bisa mengembalikan waktu itu. Tak ada yang bisa menghidupkan kembali apa yang telah usai. Namun, menuliskan namamu adalah caraku untuk merasakan kembali kehadiranmu, meski hanya dalam ingatan dan kata-kata yang terpahat di antara halaman-halaman ini.


Di luar sana, kehidupan terus berjalan. Orang-orang datang dan pergi, dan waktu terus berjalan tanpa menunggu. Namun, dalam buku puisiku, ada sebuah ruang kecil yang dikhususkan untukmu, sebuah tempat yang tak tersentuh oleh segala perubahan. Di sana, kau tetap hidup, tetap bernafas dalam setiap kata yang kutulis.


Setiap kali aku membaca kembali tulisan-tulisan itu, aku merasa seperti sedang kembali ke masa itu. Masa ketika kita masih berbicara tanpa takut akan kehilangan, ketika segala sesuatu terasa begitu nyata. Meskipun tak ada lagi tatapan kita yang saling beradu, ada sesuatu yang tetap menghubungkan kita—kata-kata itu.


Sejak saat itu, aku belajar bahwa kehilangan bukanlah akhir dari segalanya. Bahkan dalam kehilangan, ada ruang untuk merasakan kehadiran. Buku puisiku adalah saksi bisu dari perjalanan itu, sebuah perjalanan yang tak akan pernah berhenti, meski kau dan aku telah berjalan di jalan yang berbeda.


Dan jadi, meskipun dunia ini terus berputar dan segala sesuatu berubah, namamu tetap ada di sini. Dalam setiap puisi yang kutulis, dalam setiap kata yang terangkai, kau tetap hidup. Tak ada waktu yang bisa menghentikan itu, karena di dalam setiap huruf yang kutuliskan, kau tetap abadi.


Raja Ampat 

01 Februari 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mak, Masihkah Pelukanmu Menungguku ?

 MAK, MASIHKAH PELUKANMU MENUNGGUKU? Karya : Pena_Lingga Mak, andai kelak hujan jatuh tanpa langit, dan malam menanak sunyi di periuk yang t...