Kamis, 18 September 2025

Langit Retak Yang Kau Tenangkan

Langit Retak Yang Kau Tenangkan

Karya : Pena_Lingga



Mungkin Tuhan sengaja membiarkanku patah berkali-kali, agar aku tahu rasanya ditinggalkan tanpa pamit, ditusuk janji yang tak pernah ditepati, dan dibiarkan meraba sendiri dalam gelap. Luka-luka itu terlalu sering datang, menorehkan parut yang bahkan tak sempat kering. Namun di sela getir itu, kau hadir seperti jeda, seperti doa yang akhirnya menemukan alamatnya.


Kau datang bukan dengan gegap gempita, melainkan dengan tenang, seakan tahu betapa rapuhnya aku. Kau tidak memaksa hatiku yang penuh retakan untuk segera utuh, tetapi menemaninya perlahan, seolah tiap sobekan punya hak untuk disembuhkan dengan sabar. Ada kehangatan yang mengalir dalam diam tatapanmu, seakan dunia akhirnya memberi alasan bagiku untuk percaya lagi.


Aku sering merasa hanya persinggahan, tempat orang singgah sebentar lalu pergi tanpa menoleh. Namun di hadapanmu, aku mulai percaya bahwa kata menetap bukan sekadar ilusi. Kau merawat lukaku bukan dengan janji manis, melainkan dengan kehadiran yang tak pernah lekang, seperti pelukan yang tak pernah menolak.


Setiap malam, bayangan masa lalu masih berbisik, mengingatkan betapa getirnya kehilangan. Tapi suaramu hadir sebagai penawar, memeluk resahku dengan kalimat sederhana yang lebih menenangkan daripada seribu doa. Kau tidak menghapus lukaku, kau hanya menemaninya, hingga sakitnya berkurang dengan sendirinya.


Ada sedih yang tetap tinggal, seperti elegi yang enggan usai. Namun kini sedih itu tak lagi menenggelamkanku; ia justru jadi saksi betapa berharganya kehadiranmu. Kau mengajarkanku bahwa cinta bukan tentang menambal hingga tak bersisa, tetapi tentang menemani meski retak itu masih ada.


Kau tak menuntutku menjadi sempurna, kau hanya ingin aku bertumbuh. Di sisi tanganmu, aku belajar bahwa luka hanyalah bagian dari cerita, bukan akhir dari perjalanan. Bersamamu, elegi yang dulu terasa muram kini berubah menjadi syair yang masih perih, tapi indah untuk dikenang.


Aku mengingat lagi malam-malam panjang ketika aku bertanya pada Tuhan: mengapa aku harus patah dulu untuk menemukanmu? Dan aku paham, barangkali semua luka itu hanyalah jalan berliku agar aku bisa belajar menghargai satu nama—namamu—sebagai rumah terakhirku.


Kini aku tak lagi takut dengan sunyi, karena ada suaramu yang selalu menyalakan cahaya. Aku tak lagi gentar pada kehilangan, sebab aku tahu ada seseorang yang memilih menetap. Kau adalah doa yang sempat tertunda, lalu tiba di waktu yang paling tepat.


Dan bila dunia masih ingin melukisku dengan kecewa, aku akan tetap berdiri. Sebab aku telah menemukanmu, alasan untuk tidak menyerah pada getir. Kau bukan hanya perawat lukaku, kau adalah alasan mengapa aku masih bertahan hidup di dalam elegi ini.


Cinta kita mungkin lahir dari luka, tapi justru di sanalah letak keindahannya. Dari perih yang pernah membakar, kini tumbuh hangat yang menenangkan. Dan aku percaya, meski elegi sedih ini takkan pernah benar-benar usai, bersamamu ia akan selalu berubah menjadi puisi yang pantas kusyukuri.


Raja ampat, 19 September 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mak, Masihkah Pelukanmu Menungguku ?

 MAK, MASIHKAH PELUKANMU MENUNGGUKU? Karya : Pena_Lingga Mak, andai kelak hujan jatuh tanpa langit, dan malam menanak sunyi di periuk yang t...